Klik disini

Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

25/11/2020

Nasehat Oleh Parahabaib Untuk Tegar Dalam Segala Apapun

KH. Musthofa Bisri, KH. Maimun Zubair dan KH. M Anwar Manshur


Seorang pemuda kehilangan sepatunya di laut. 
_
lalu dia menulis di pinggir pantai
LAUT INI MALING.
_
Tak lama datanglah nelayan yg membawa hasil tangkapan ikan begitu banyak, lalu dia menulis di pantai
LAUT INI BAIK HATI.
_
Seorang pemuda tenggelam di lautan lalu ibunya menulis di pantai,
LAUT INI PEMBUNUH.
_
Tak lama datanglah Seorang lelaki yg menemukan sebongkah mutiara di dalam lautan, lalu dia menulis di pantai
LAUT INI PENUH BERKAH.
_
Kemudian datanglah ombak besar dan menghapus semua tulisan di pantai itu !!!!!!
_
Maka...
_
JANGAN RISAUKAN OMONGAN ORANG, KARENA SETIAP ORANG MEMBACA DUNIA DENGAN PEMAHAMAN DAN PENGALAMAN YANG BERBEDA.
_
Teruslah melangkah, selama engkau di jalan yang benar.
Meski terkadang kebaikan tidak senantiasa di hargai.
_
Sayidina Ali bin Abi Thalib berkata:
Jangan menjelaskan tentang diri mu kepada
siapa pun,
Karena yang menyukai mu tidak butuh itu,
Dan yang membenci mu tidak percaya itu.
_
Hidup bukan tentang siapa yang terbaik, tapi
Siapa yang mau berbuat baik.
_
Jangan menghapus Persaudaraan hanya karena sebuah Kesalahan ...
Namun Hapuslah kesalahan...
demi lanjutnya Persaudaraan.
_
Jika datang kepadamu gangguan
Jangan berpikir bagaimana cara Membalas dengan yang lebih Perih, tapi berpikirlah bagaimana cara Membalas dengan yang lebih Baik.
_
Kurangi mengeluh teruslah berdoa dan berikhtiar.
Sibukkan diri dalam kebaikan. Hingga keburukan lelah mengikuti mu".
_
KH. Musthofa Bisri, KH. Maimun Zubair dan KH. M Anwar Manshur.

08/11/2020

Mencium Tangan Kyai, Sowan Itu Di Anjurkan

 Mencium Tangan Kyai, Sowan Itu Di Anjurkan

KH Maimoen Zubair (almaghfurlah) ketika dicium tangannya oleh seorang kiai. (Foto: Istimewa)


Sowan adalah tradisi santri berkunjung kepada kyai dengan harapan mendapatkan petunjuk atas sebuah permasalahan yang diajukannya, atau mengharapkan doa dari kyai atau sekedar bertatap muka silaturrhim saja. Seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah saw bahwa bersilaturrahim dapat menjadikan umur dan rezeki bertambah panjang. Sowan dapat dilakukan oleh santri secara individu atau bersama-sama. Bisanya seorang kiai akan menerima para tamu dengan lapang dada. Bagi wali santri yang hendak menitipkan anaknya di pesantren, sowan kepada kiai sangat penting. Karena dalam kesempatan ini ia akan memasrahkan anaknya untuk dididik di pesantren oleh sang kiai . Begitu pula dengan calon santri, inilah kali pertama ia melihat wajah kiainya yang akan menjadi panutan sepanjang hidupnya. Sowan tidak hanya dilakukan oleh santri yang masih belajar di pesantren. Banyak santri yang telah hidup bermasyarakat dan berkeluarga mengunjungi kiainya hanya sekedar ingin bersalaman semata. Atau sengaja datang membawa permasalahan yang hendak ditanyakan kepada kiai tentang berbagai masalah yang dihadapinya.

Hal ini menjadikan bahwa hubungan kiai santri tidak pernah mengenal kata putus. Kiai tetap menjadi guru dan santri tetap menjadi murid. Dalam dunia pesantren istilah alumni hanya menunjuk pada batasan waktu formal belaka, dimana seorang santri pernah belajar di sebuah pesantren tertentu. Tidak termasuk di dalamnya hubungan guru-murid. Meskipun telah manjadi alumni pesantren A, seseorang akan tetap menjadi santri atau murid kiai A. Di beberapa daerah tradisi sowan memiliki momentumnya ketika Idul Fitri tiba. Biasanya, seorang kiai sengaja mempersiapkan diri menerima banyak tamu yang sowan kepadanya. Mereka yang sowan tidaklah sebatas para santri yang pernah berguru kepadanya, namun juga masyarakat, tetangga dan bahkan para pejabat tidak pernah berguru langsung kepadanya. Mereka datang dengan harapan mendapatkan berkah dari kealiman seorang kiai . Karena barang siapa  bergaul dengan penjual minyak wangi, pasti akan tertular semerbaknya bau wangi. Pada bulan Syawal seperti ini, sowan kepada kiai merupakan sesuatu yang utama bagi kalangan santri. Hampir sama pentingnya dengan mudik untuk berjumpa keluarga dan kedua orang tua. Pantas saja, karena kiai bagi santri adalah guru sekaligus berlaku sebagai orang tua. Oleh karena itu sering kali mereka yang kembali pulang dari perantauan menjadikan sowan kepada kiai sebagai alasan penting mudik di hari lebaran. Bagi santri yang telah jauh berkelana mengarungi kehidupan, kembali ke pesantren dan mencium tangan kiai merupakan ‘isi ulang energi’ recharger untuk menghadapi perjalanan hidup ke depan. Seolah setelah mencium tangan kiai dan bermuwajjahah dengannya semua permasalahan di depan pasti akan teratasi. Semua itu berlaku berkat doa orang tua dan kiai . 

Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Imam Nawawi sebagai mana dinukil oleh Ibn Hajar al-Asqolani dalam Fathul Bari

 قالَ الاِمَامْ النَّوَاوِيْ : تقبِيْلُ يَدِ الرَّجُلِ ِلزُهْدِهِ وَصَلاَحِهِ وَعِلْمِهِ اَوْ شرَفِهِ اَوْ نَحْوِ ذالِكَ مِنَ اْلاُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ لاَ يُكْرَهُ بَل يُسْتَحَبّ

Artinya : Imam Nawawi berkata : mencium tangan seseorang karena zuhudnya, kebaikannya, ilmunya, atau karena kedudukannya dalam agama adalah perbuatan yang tidak dimakruhkan, bahkan hal yang demikian itu disunahkan.


Demikianlah tradisi sowan ini berlangsung hingga sekarang. Para santri meyakini benar bahwa seorang kiai yang alim dan zuhud jauh lebih dekat kepada Allah swt dibandingkan manusia pada umumnya. Karena itulah para santri sangat mengharapkan do’a dari para kyai. Karena doa itu niilainya lebih dari segudang harta. Inilah yang oleh orang awam banyak diistilahkan dengan tabarrukan, mengharapkan berkah dari do’a kyai yang mustajab karena kezuhudannya, kewiraiannya dan kealimannya. Dengan demikian optimisme dalam menghadapi kehidupan dengan berbagai macam permasalahannya merupakan nilai positif yang tersimpan di balik tradisi sowan. Sowan model inilah yang dianjurkan oleh Rasulullah saw.

 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ 

Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan” (H.R. Bukhari-Muslim).


عَنْ أَبِي أَيُّوبَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ قَالَ مَا لَهُ مَا لَهُ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَبٌ مَا لَهُ تَعْبُدُ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصِلُ الرَّحِمَ ” .رواه البخاري 

Dari Abu Ayyub Al-Anshori r.a bahwa ada seorang berkata kepada Nabi saw., “Beritahukanlah kepadaku tentang satu amalan yang memasukkan aku ke surga. Seseorang berkata, “Ada apa dia? Ada apa dia?” Rasulullah saw. Berkata, “Apakah dia ada keperluan? Beribadahlah kamu kepada Allah jangan kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, tegakkan shalat, tunaikan zakat, dan bersilaturahimlah.” (Bukhari). Artinya hanya silaturrahim yang bernilai positiflah yang akan diganjar oleh Allah sebagaimana dijanjikan Rasulullah dalam kedua haditsnya. Bukan silaturrahim yang bernilai negatif yaitu silaturrahim yang melanggar aturan syariat Islam.

Sumber Manfaat Ilmu Adalah Ridho Guru

 Sumber Manfaat Ilmu Adalah Ridho Guru

Foto Ilustrasi

Seorang pencari ilmu, murid, atau santri, harus memiliki kemampuan memilih guru dan ketika sudah bersama guru harus mengaplikasikan etika-etika yang baik. Tidak bermaksud membeda-bedakan guru, karena semua guru berhak untuk diambil ilmunya. Namun, memilih guru untuk studi yang fokus adalah kunci utama kesuksesan mencari ilmu, sedangkan etika adalah kunci mendapatkan keberkahan guru, kemanfaatan ilmu, dan keridhaan Allah. Berikut 10 nasihat Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari untuk pencari ilmu dalam memilih dan beretika terhadap guru:


Pintar Memilih Guru

Hendaknya seorang pencari ilmu mempertimbangkan terlebih dahulu seraya meminta petunjuk (istikharah) kepada Allah SWT perihal guru yang akan ditimba ilmunya dan yang akan diteladani budi pekerti dan tata kramanya. Kalau bisa orang yang sudah diketahui punya keahlian, sifat asih, citra yang baik, kepandaian menjaga kesucian diri, dan kemampuan mengajar dan memahamkan yang baik. Ada maqalah (ungkapan) dari seorang ulama salaf, “Ilmu ini adalah agama. Maka berhati-hatilah kepada siapa kalian mempelajari agama kalian.”


Memilih Guru Peneliti dan Suka Berdialog

Bersungguh-sungguh dalam mencari guru yang memiliki keahlian dalam bidang ilmu syari`at, yang dipercaya di antara guru-guru lain pada zamannya sering melakukan penelitian dan dialog bersama para pakar. Bukan sosok guru yang ilmunya didapat lewat lembaran-lembaran kertas buku dan tidak pernah belajar langsung pada guru-guru ahli (masyayikh). Imam Syafi`i berkata, “Barangsiapa yang belajar fikih dari kitab atau buku, dia telah menyia-nyiakan hukum.”


Patuh Pada Guru

Santri harus patuh pada guru dalam berbagai hal dan tidak menentang pendapat dan aturannya. Murid dengan guru posisinya seperti pasien dengan guru ahli. Oleh karena itu murid harus meminta petunjuk guru dalam menggapai tujuannya, berusaha mendapat ridho guru dalam setiap perbuatan, menghormatinya, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan melayaninya. Ketahuilah bahwa ketundukan pada guru adalah kemuliaan. Kepatuhan kepadanya merupakan kebanggaan dan kerendahan diri di depannya merupakan keluhuran.


Sopan dan Percaya terhadap Guru

Santri/pencari ilmu harus memandang guru dengan hormat nan takdhim dan percaya pada diri gurunya itu ada kesempurnaan dan kredibilitas keilmuan, karena itu lebih bermanfaat bagi murid. Abu Yusuf berkata, ”Aku mendengar ulama salaf berkata: ‘Siapa yang tidak meyakini keagungan gurunya, dia tidak akan bahagia.’ Jangan sekali-kali berbicara pada guru dengan menggunakan huruf ta` khitab dan kaf (kata ganti kedua untuk laki-laki jama`) dan jangan memanggil namanya, namun pakailah kata-kata tuan atau ustadz (kalau di Indonesia, bisa pak, bapak guru, kiai, Abah Yai dan lain sebagainya). Begitu pula ketika tidak di hadapan guru, jangan menyebut namanya kecuali bersama kata-kata penghormatan seperti ‘Syekh (kiai), ustadz berkata… atau Kiaiku berkata..’ dan seterusnya.”


Memuliakan Guru Seumur Hidup

Santri harus mengetahui hak-hak guru dan tidak melupakan kemuliaannya. Mendoakan baik ketika hidup maupun setelah kematiannya. Tetap menghormati keturunannya, kerabat, dan orang-orang yang dikasihinya. Ziarah ke makamnya, memintakan ampunan untuknya, bersedekah untuknya dan menempuh jalan kebaikan dan petunjuknya. Meneruskan tradisi kegamaan dan keilmuannya. Berprilaku sesuai prilakunya dan selalu meneladaninya.


Meminta Maaf Bila Salah

Keenam, bersabar atas kekasaran (ketidakramahan) dan keburukan prilaku yang muncul dari guru. Mentakwil (menjelaskan) perbuatan guru yang tampaknya menyalahi, atau guru berlaku kasar pada murid. Ketika santri melakukan kesalahan, hendaknya murid mulai meminta maaf, menampakkan bahwa dia bersalah dan berhak dimarahi. Dengan begitu guru akan tambah senang untuk mengajarkan keutamaan kepada murid dan memperingatkannya ketika dia berlaku tidak baik, malas, ceroboh, atau melakukan hal-hal lain yang memungkinkan adanya pencegahan dan peringatan dari guru.


Pencegahan dan peringatan guru sebenarnya untuk mengarahkan dan memperbaiki diri murid sehingga harus dipahami sebagai nikmat Allah yang datang dalam bentuk perhatian dan pengawasan guru. Jika hal ini dipahami oleh murid, maka guru akan tambah suka dan semangat memperhatikan kemaslahatan-kemaslahatan murid.


Bila guru mengajarkan suatu etika atau memperhatikan atas suatu kesalahan murid yang telah diketahui sebelumnya, maka murid tidak perlu terlebih dahulu menampakkan bahwa dia sudah tahu kesalahannya, tapi hendaknya mengabaikannya dulu. Namun, kalau dia punya alasan (yang kuat) atas kesalahannya itu dan dengan memberitahukannya pada guru dianggap sebuah hal yang baik, maka tidak apa-apa memberitahukanya. Kalau dianggap tidak baik, maka alasan tersebut hendaknya jangan dijelaskan. Namun, bila tidak dijelaskan menimbulkan hal-hal negatif, maka harus dijelaskan.


Bertemu Guru Harus Meminta Izin

Murid hendaknya tidak menemui guru tanpa meminta izin terlebih dahulu, baik guru sedang sendirian maupun bersama orang lain, kecuali guru sedang di majlis taklim maka temui dan ikutilah pengajiannya. Bila sudah mengucapkan izin seperti mengucapkan salam ingin bertemu sekali dan guru tahu hal itu, tapi tidak mengizinkan, maka murid harus pergi dan tidak mengulangi paksa permintaan izinnya. Bila ragu apa guru dengar ucapan permintaan izin bertemu dari murid atau tidak, maka boleh mengulangi maksimal tiga kali atau dengan mengetuk pintu tiga ketukan yang wajar penuh tata krama seperti dengan menggunakan kuku jemari lalu dengan jemari secara bertahap. Bila guru sudah mengizinkan masuk dan murid yang ingin bertemu banyak, maka yang lebih tua masuk dahulu seraya mengucapkan salam kemudian diikuti yang lain sesuai urutan usia sambil mengucapkan salam secara bergantian.


Bertemu Guru dengan Penampilan Baik

Hendaknya juga ketika menemui guru dalam keadaaan berpenampilan yang baik, badan dan pakaian bersih dan suci setelah sebelumnya memotong kuku dan menghilangkan bau badan yang tidak sedap. Terutama bila bertujuan mengaji. Hal ini karena tempat tersebut adalah majlis dzikir, ibadah dan berkumpulnya orang-orang.


Diam Saat Guru Ngobrol

Ketika sudah ada di dalam (majlis atau rumah guru) dan ketika itu beliau sedang ngobrol dengan seseorang, maka yang lain hendaknya diam tidak bicara sendiri. Atau, ketika sudah di dalam ternyata guru sedang shalat sendirian, sedang berdzikir atau belajar, maka murid harus membiarkannya saja, diam dan tidak memulai pembicaraan. Akan tetapi sebaiknya dia pengertian dengan mengucapkan salam pamit pulang secepatnya, kecuali bila guru menyuruh untuk tetap tinggal. Tapi jangan berlama-lama, kecuali bila disuruh.


Menunggu Guru Ketika Belum Hadir

Bila murid datang ke tempat guru sementara guru belum juga datang, maka hendaknya dia menunggu supaya dia tidak ketinggalan pelajaran. Tidak diperkenankan pergi ke kamar guru mengetuk pintu supaya guru keluar. Bila guru masih tidur, murid hendaknya bersabar hingga beliau bangun, atau balik pulang dan datang lagi di lain waktu, sebab kesabaran merupakan perangai yang harus dimiliki murid.


Tidak diperbolehkan bagi murid meminta kepada guru waktu khusus untuk dirinya sendiri agar diajarkan ilmu, meskipun murid tersebut seorang pemimpin atau orang besar. Sebab hal itu merupakan kesombongan dan pembodohan kepada guru dan murid-murid yang lain. Namun bila guru yang meminta waktu khusus karena tidak bisa hadir di waktu yang sudah disepakati entah karena ada udzur atau karena suatu kemaslahatan yang dipandang baik, maka hal tersebut boleh-boleh saja.

Nasihat Kyai Hasyim untuk Pencari Ilmu

 Sepuluh Nasihat Kyai Hasyim untuk Pencari Ilmu

Gambar Ilustrasi

Seorang pencari ilmu, murid, atau santri, harus memiliki kemampuan memilih guru dan ketika sudah bersama guru harus mengaplikasikan etika-etika yang baik. Tidak bermaksud membeda-bedakan guru, karena semua guru berhak untuk diambil ilmunya. Namun, memilih guru untuk studi yang fokus adalah kunci utama kesuksesan mencari ilmu, sedangkan etika adalah kunci mendapatkan keberkahan guru, kemanfaatan ilmu, dan keridhaan Allah. Berikut 10 nasihat Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari untuk pencari ilmu dalam memilih dan beretika terhadap guru:


1. Pintar Memilih Guru

Hendaknya seorang pencari ilmu mempertimbangkan terlebih dahulu seraya meminta petunjuk (istikharah) kepada Allah SWT perihal guru yang akan ditimba ilmunya dan yang akan diteladani budi pekerti dan tata kramanya. Kalau bisa orang yang sudah diketahui punya keahlian, sifat asih, citra yang baik, kepandaian menjaga kesucian diri, dan kemampuan mengajar dan memahamkan yang baik. Ada maqalah (ungkapan) dari seorang ulama salaf, “Ilmu ini adalah agama. Maka berhati-hatilah kepada siapa kalian mempelajari agama kalian.”


2. Memilih Guru Peneliti dan Suka Berdialog

Bersungguh-sungguh dalam mencari guru yang memiliki keahlian dalam bidang ilmu syari`at, yang dipercaya di antara guru-guru lain pada zamannya sering melakukan penelitian dan dialog bersama para pakar. Bukan sosok guru yang ilmunya didapat lewat lembaran-lembaran kertas buku dan tidak pernah belajar langsung pada guru-guru ahli (masyayikh). Imam Syafi`i berkata, “Barangsiapa yang belajar fikih dari kitab atau buku, dia telah menyia-nyiakan hukum.”


3. Patuh Pada Guru

Santri harus patuh pada guru dalam berbagai hal dan tidak menentang pendapat dan aturannya. Murid dengan guru posisinya seperti pasien dengan guru ahli. Oleh karena itu murid harus meminta petunjuk guru dalam menggapai tujuannya, berusaha mendapat ridho guru dalam setiap perbuatan, menghormatinya, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan melayaninya. Ketahuilah bahwa ketundukan pada guru adalah kemuliaan. Kepatuhan kepadanya merupakan kebanggaan dan kerendahan diri di depannya merupakan keluhuran.


4. Sopan dan Percaya terhadap Guru

Santri/pencari ilmu harus memandang guru dengan hormat nan takdhim dan percaya pada diri gurunya itu ada kesempurnaan dan kredibilitas keilmuan, karena itu lebih bermanfaat bagi murid. Abu Yusuf berkata, ”Aku mendengar ulama salaf berkata: ‘Siapa yang tidak meyakini keagungan gurunya, dia tidak akan bahagia.’ Jangan sekali-kali berbicara pada guru dengan menggunakan huruf ta` khitab dan kaf (kata ganti kedua untuk laki-laki jama`) dan jangan memanggil namanya, namun pakailah kata-kata tuan atau ustadz (kalau di Indonesia, bisa pak, bapak guru, kiai, Abah Yai dan lain sebagainya). Begitu pula ketika tidak di hadapan guru, jangan menyebut namanya kecuali bersama kata-kata penghormatan seperti ‘Syekh (kiai), ustadz berkata… atau Kiaiku berkata..’ dan seterusnya.”


5. Memuliakan Guru Seumur Hidup

Santri harus mengetahui hak-hak guru dan tidak melupakan kemuliaannya. Mendoakan baik ketika hidup maupun setelah kematiannya. Tetap menghormati keturunannya, kerabat, dan orang-orang yang dikasihinya. Ziarah ke makamnya, memintakan ampunan untuknya, bersedekah untuknya dan menempuh jalan kebaikan dan petunjuknya. Meneruskan tradisi kegamaan dan keilmuannya. Berprilaku sesuai prilakunya dan selalu meneladaninya.


6. Meminta Maaf Bila Salah

Keenam, bersabar atas kekasaran (ketidakramahan) dan keburukan prilaku yang muncul dari guru. Mentakwil (menjelaskan) perbuatan guru yang tampaknya menyalahi, atau guru berlaku kasar pada murid. Ketika santri melakukan kesalahan, hendaknya murid mulai meminta maaf, menampakkan bahwa dia bersalah dan berhak dimarahi. Dengan begitu guru akan tambah senang untuk mengajarkan keutamaan kepada murid dan memperingatkannya ketika dia berlaku tidak baik, malas, ceroboh, atau melakukan hal-hal lain yang memungkinkan adanya pencegahan dan peringatan dari guru.


Pencegahan dan peringatan guru sebenarnya untuk mengarahkan dan memperbaiki diri murid sehingga harus dipahami sebagai nikmat Allah yang datang dalam bentuk perhatian dan pengawasan guru. Jika hal ini dipahami oleh murid, maka guru akan tambah suka dan semangat memperhatikan kemaslahatan-kemaslahatan murid.


Bila guru mengajarkan suatu etika atau memperhatikan atas suatu kesalahan murid yang telah diketahui sebelumnya, maka murid tidak perlu terlebih dahulu menampakkan bahwa dia sudah tahu kesalahannya, tapi hendaknya mengabaikannya dulu. Namun, kalau dia punya alasan (yang kuat) atas kesalahannya itu dan dengan memberitahukannya pada guru dianggap sebuah hal yang baik, maka tidak apa-apa memberitahukanya. Kalau dianggap tidak baik, maka alasan tersebut hendaknya jangan dijelaskan. Namun, bila tidak dijelaskan menimbulkan hal-hal negatif, maka harus dijelaskan.


7. Bertemu Guru Harus Meminta Izin

Murid hendaknya tidak menemui guru tanpa meminta izin terlebih dahulu, baik guru sedang sendirian maupun bersama orang lain, kecuali guru sedang di majlis taklim maka temui dan ikutilah pengajiannya. Bila sudah mengucapkan izin seperti mengucapkan salam ingin bertemu sekali dan guru tahu hal itu, tapi tidak mengizinkan, maka murid harus pergi dan tidak mengulangi paksa permintaan izinnya. Bila ragu apa guru dengar ucapan permintaan izin bertemu dari murid atau tidak, maka boleh mengulangi maksimal tiga kali atau dengan mengetuk pintu tiga ketukan yang wajar penuh tata krama seperti dengan menggunakan kuku jemari lalu dengan jemari secara bertahap. Bila guru sudah mengizinkan masuk dan murid yang ingin bertemu banyak, maka yang lebih tua masuk dahulu seraya mengucapkan salam kemudian diikuti yang lain sesuai urutan usia sambil mengucapkan salam secara bergantian.


8. Bertemu Guru dengan Penampilan Baik

Hendaknya juga ketika menemui guru dalam keadaaan berpenampilan yang baik, badan dan pakaian bersih dan suci setelah sebelumnya memotong kuku dan menghilangkan bau badan yang tidak sedap. Terutama bila bertujuan mengaji. Hal ini karena tempat tersebut adalah majlis dzikir, ibadah dan berkumpulnya orang-orang.


9. Diam Saat Guru Ngobrol

Ketika sudah ada di dalam (majlis atau rumah guru) dan ketika itu beliau sedang ngobrol dengan seseorang, maka yang lain hendaknya diam tidak bicara sendiri. Atau, ketika sudah di dalam ternyata guru sedang shalat sendirian, sedang berdzikir atau belajar, maka murid harus membiarkannya saja, diam dan tidak memulai pembicaraan. Akan tetapi sebaiknya dia pengertian dengan mengucapkan salam pamit pulang secepatnya, kecuali bila guru menyuruh untuk tetap tinggal. Tapi jangan berlama-lama, kecuali bila disuruh.


10. Menunggu Guru Ketika Belum Hadir

Bila murid datang ke tempat guru sementara guru belum juga datang, maka hendaknya dia menunggu supaya dia tidak ketinggalan pelajaran. Tidak diperkenankan pergi ke kamar guru mengetuk pintu supaya guru keluar. Bila guru masih tidur, murid hendaknya bersabar hingga beliau bangun, atau balik pulang dan datang lagi di lain waktu, sebab kesabaran merupakan perangai yang harus dimiliki murid.


Tidak diperbolehkan bagi murid meminta kepada guru waktu khusus untuk dirinya sendiri agar diajarkan ilmu, meskipun murid tersebut seorang pemimpin atau orang besar. Sebab hal itu merupakan kesombongan dan pembodohan kepada guru dan murid-murid yang lain. Namun bila guru yang meminta waktu khusus karena tidak bisa hadir di waktu yang sudah disepakati entah karena ada udzur atau karena suatu kemaslahatan yang dipandang baik, maka hal tersebut boleh-boleh saja.

28/10/2020

Motivasi

 Perhatikan buah jambu ini....!

Tumbuh bersama di batang yang sama.


Tapi proses matangnya berbeda.

Jangan bandingkan prosesmu dengan proses orang lain. karena setiap orang memiliki prosesnya masing2.


Dan di matangkan dengan bentuk berbeda-beda. Jika rizki itu diukur dari kerja keras, maka kuli bangunanlah yang akan cepat kaya.

Jika rizki itu ditentukan dari waktu kerja, maka warung kopi 24 jam lah yang akan lebih mendapatkanya, bahkan mungkin mampu mengalahkah Starbuck, KFC dan Mc.DONALD

Jika rizki itu milik orang pintar, maka dosen dan guru yang bergelar panjang yang akan lebih kaya.

Jika rizki itu karena jabatan, maka presiden dan rajalah orang yang akan menduduki  100 orang terkaya di dunia.


31/01/2014

Motivasi Tetap Selalu Menjaga Dari Prasangka Buruk

Foto Ilustrasi
 

Bapak Tua yang ada di photo itu sedang menggiring domba²nya yang berada di dalam kurungan berjalan.

Sebagian orang mengira bahwa otak Pak Tua ini _error_, yang ia lakukan tak lazim.

Sebagian yang lain menilai Pak Tua ini berlebihan, saking takutnya ia dombanya dicuri.

Sebagian lainnya menyangka Pak Tua ini pasti terlalu khawatir dombanya tertabrak kendaraan di jalan.

Setiap orang menyangka, mengira dan menilai macam-macam. Sesuka pelbagai prasangka buruk mereka.

Sampai....seseorang yang berpapasan dgn Pak Tua itu memberanikan diri bertanya: Mengapa engkau lakukan itu, Pak Tua?

Pak Tua menjawab: Aku lakukan ini karena aku takut domba-dombaku memakan tanaman orang lain tanpa sepengetahuan si pemilik tanaman. Tentu Tuhanku akan menghisabku kelak akibat perbuatan domba-dombaku ini.

Demikianlah manusia...terus berprasangka buruk terhadap orang lain, yang sangat mungkin berhati bersih. Dan memang, bersihnya hati Pak Tua itu hanya Tuhannya yang tahu.

Maka berhati-hatilah dalam prasangkamu